Jumat, 26 Agustus 2011

TELUR asin rasa udang?

TELUR asin rasa udang? Pertanyaan bernada keheranan ditambah kernyitan di dahi itu pasti muncul setiap kali orang membayangkan telur asin rasa udang tersebut. Selanjutnya, pasti muncul serentetan pertanyaan lain yang timbul karena rasa penasaran yang menjadi-jadi.
Kalau begitu, bisa bikin telur asin rasa stroberi, atau cokelat," celetuk orang yang lain lagi. Ya, celetukan-celetukan lain pasti juga bermunculan mendengar ada telur asin rasa udang dan kupang yang diproduksi oleh "hanya" 50-an peternak unggas di Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

...
Selama ini, orang hanya mengenal telur asin dari Brebes, sementara telur asin van Pasuruan ini hanya dipandang sebelah mata, dan nyaris tak terdengar.

Padahal, menurut Hasan Bisri (35) yang menemukan resepnya, telur asin tersebut sangat digemari wisatawan mancanegara yang sering berlibur di kawasan Tretes, atau Batu. Tidak tanggung-tanggung, di obyek wisata itu sebutir telur asin dijual dengan harga satu dollar AS (sekitar Rp 10.000) oleh pemilik toko suvenir di sana. Bandingkan dengan harga yang dipatok oleh Hasan, yang hanya Rp 700-Rp 1.000 per butir.

Promosi dan pemasaran yang terbatas membuat sejumlah orang masih keheranan dan merasa asing setiap kali telur asin rasa udang dan kupang itu disebut. Padahal, telur asin itu sudah mulai dirintis oleh sang pemilik ide sejak tahun 1991.

Namun, karena penjualan telur tersebut masih sebatas di Pasuruan, Pandaan, Malang, Sidoarjo, Surabaya, dan Banjarmasin, maka belum banyak masyarakat yang mengenalnya. Kendati dalam sehari peternak unggas di Desa Kejapanan mampu menghasilkan 35.000 butir telur asin, prospek bisnis produk langka ini belum cemerlang. Seperti jamaknya pengusaha kelas kecil dan menengah lainnya, persoalan modal menjadi kendala utama produsen telur asin ini.


***
HASAN Bisri yang dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Nasional Tahun 2000 itu memulai usahanya karena "kecelakaan". Ayah tiga anak ini semula beternak ayam hingga tahun 1990-an. Namun, karena persaingan yang ketat, bahkan terkesan tidak sehat, peternakannya yang saat itu telah mencapai 25.000 ekor ayam bangkrut.

Menurut Hasan, penyebab kebangkrutan adalah sikapnya yang keras kepala, tidak mau masuk peternakan inti rakyat (PIR). Akibatnya, harga pakan ternak dipermainkan, sehingga ia tidak mampu lagi membelinya.

Dengan sisa modal Rp 700.000, tahun 1991, Hasan membuat bangunan berukuran 3 meter x 7 meter berdinding bambu. Sisanya, ia gunakan untuk membeli 200 ekor bebek. Dalam kurun waktu satu tahun, peternakan bebek Hasan berkembang pesat, dan ia dapat menabung sebesar Rp 7,5 juta.

Pasalnya, kebutuhan untuk pakan relatif kecil, hanya Rp 4.000 per hari, sementara telur yang dihasilkan unggasnya rata-rata 160 butir per hari, dengan harga jual Rp 180 per butir. Jadi, dalam sehari Hasan dapat mengantungi keuntungan bersih Rp 25.000 atau Rp 750.000 sebulan.

Menurut Hasan, kandang lebih penting dibanding aspek apa pun dalam beternak. Oleh sebab itu, ia menyisihkan Rp 5 juta dari tabungannya untuk membangun kandang bebek kering. Ini membuat bebek semakin produktif, dan bau kotorannya tidak mengganggu tetangga kanan-kiri. Sisanya digunakan lagi untuk membeli 300 bebek. Pada tahun 1993, jumlah unggasnya sudah 3.500, dan 1.500 di antaranya merupakan bebek petelur.


***
PADA suatu hari, Hasan sempat terheran-heran melihat telur asin berwarna ungu di Brebes. Rupanya, bebek penghasil telur itu diberi makan eceng gondok. Sejak saat itu, Hasan yang lulusan SMA Yayasan Gempol Jurusan IPA ini menyimpulkan bahwa jenis makanan bebek dapat menentukan warna, kualitas, dan rasa telurnya.

Bersamaan dengan itu, Hasan melihat bahwa limbah pabrik pengalengan udang dan kupang yang banyak terdapat di sekitar rumahnya selalu terbuang. Terbetik dalam benaknya, jika bebeknya diberi makan kepala udang dan kupang sisa pabrik itu, maka telurnya bisa berwarna merah, dan rasanya pun jadi mirip udang atau kupang.

Dia segera mendatangi manajer pabrik pengalengan udang dan kupang, meminta agar limbah pabrik bisa dia manfaatkan. Ternyata pihak pabrik yang saat itu tengah kebingungan membuang limbahnya, bersedia memberikan limbah itu dengan cuma-cuma kepada Hasan.

Hasan Bisri tidak merasa canggung atau kesulitan untuk memodifikasi pakan itiknya. Dia meramu pakan dengan komposisi sentrat dan bekatul 1:4 untuk telur bebek dengan rasa alami (tiap ekor membutuhkan dua ons pakan).

Untuk 100 bebek yang diharapkan menghasilkan telur rasa udang, komposisi sentrat 1:10, masih ditambah satu zak (15 kg) kepala udang, sedangkan telur rasa kupang dihasilkan oleh bebek yang diberi pakan dengan perbandingan sentrat dan katul 1:8, plus satu zak kupang. Hasilnya, kuning telur bebeknya berwarna kuning kemerahan, seperti matahari yang hampir terbenam, sesuai warna kepala udang yang dimakan bebeknya.

DALAM rangka meningkatkan nilai ekonomis telur, Hasan juga meramu resep tertentu untuk mengasinkan telur tersebut, agar lebih awet. Telur asin yang melalui proses pelarutan laku dijual Rp 1.000 per butir, sementara yang tanpa melalui proses pelarutan hanya Rp 700-Rp 800 per butir. "Selain itu, rasa udang atau rasa kupangnya juga lebih menggigit, sehingga sekali makan orang langsung terkejut dan teringat terus," ujarnya.

Untuk mengasinkan dan membuat rasa udang atau kupang lebih tajam, setiap 100 butir telur, Hasan meramu satu liter air, garam dua kg, batu bata dua kg, tanah liat satu kg, abu 0,5 kg, cendana satu ons, dan cuka lima botol kecil.

Setiap butir telur harus dicelupkan satu per satu ke dalam larutan, sampai terbungkus larutan secara merata. Setelah itu, telur didiamkan minimal selama 14 hari. "Saya sarankan antara 14-15 hari. Kurang dari itu tidak bagus, lebih dari itu juga nanti terlalu asin," cetus Hasan. Namun diakui, saat ini hanya dia yang menjalankan proses semacam itu, sementara puluhan peternak lain tidak menerapkannya.

KEBERHASILAN Hasan memproduksi telur asin dengan beragam rasa itu ternyata menarik perhatian Karang Taruna Desa Kejapanan. Kerja sama saling menguntungkan antara Hasan dan pemilik pabrik pengalengan diambil alih oleh remaja, dengan alasan untuk membantu program Karang Taruna. Sejak tahun 1995, kepala udang yang semula ia dapatkan secara gratis dari pabrik, harus ia beli dari Karang Taruna dengan harga Rp 200 per kg. "Padahal, oleh pemilik pabrik hanya dijual Rp 60 per kilogram lho," kata Hasan.

Meskipun demikian, Hasan tidak keberatan, bahkan dengan tangan terbuka ia mengajak warga di sekitarnya untuk turut mengembangkan usaha ternak bebek dan telur asin seperti dirinya. Bahkan, ia membina para pemuda se-kecamatan untuk mau membuat kandang kering yang sehat, yang mampu meningkatkan produktivitas bebek hingga 75 persen. Hasilnya, saat ini tercatat lebih dari peternak binaannya yang mampu menghasilkan 35.000 butir telur per hari, dengan omzet mencapai Rp 750.000 per orang per hari.

MESKIPUN demikian, Hasan dan para peternak lain belum merasa puas. Paling tidak, keinginan untuk mematenkan trademark telur asin rasa udang itu belum lagi terwujud. Masih ada pula obsesi Hasan dan peternak binaannya yang hingga kini masih sekadar angan-angan. Lagi-lagi masalah modal, tentunya.

Melihat telur hasil produksi mereka dapat dijual dengan harga sepuluh kali lipat di obyek wisata, membuat mereka ingin juga meningkatkan harga jual telur asinnya. Saat ini para peternak yang tergabung dalam wadah Kelompok Pembelajaran Swadaya Masyarakat (KPSM) Unggas Harapan Kita, tengah merintis kemasan telur yang dapat lebih menarik minat pembeli. Tas pengemas itu dirancang berwarna keperakan, dengan gambar tiga butir telur berwarna biru.

Sayang, hingga saat ini telur asin rasa udang itu belum mudah dijumpai masyarakat. Peternakan yang terpencil dan jauh dari pusat keramaian, membuat hanya orang tertentu saja yang mengetahui keberadaan mereka. Tidak salah rasanya jika cita-cita Hasan dan peternak binaannya hanya ingin "tampil" lebih. Tidak perlu gerai atau kios mewah, mereka hanya butuh tempat untuk memajang hasil kerjanya selama ini.

"Kami sih inginnya bisa menggelar dan memamerkan telur-telur ini di pinggir jalan, seperti pedagang tape Bondowoso itu lho. Tetapi, itu kan enggak resmi. Takut kalau nanti kena gusur petugas ketertiban. Lebih baik mengumpulkan modal, agar bisa menyewa kios di pinggir jalan," kata Hasan. Betul, tetapi jangan lupa mematenkan karya telur asin itu, jangan seperti tempe yang sudah dipatenkan orang Jepang.

3 komentar: